Pada
umumnya, kebanyakan orang beranggapan bahwa kecerdasan seseorang diukur dengan
tingkat Intelligence Quotiennts (IQ) yang dimiliki. Namun dalam
kenyataannya, IQ tinggi yang dimiliki seseorang bukanlah menjadi satu-satunya
tolak ukur untuk menentukan kecerdasan
dan menjamin kesukseksan seseorang. Masih ada dua aspek lagi yang sangat
menentukan seseorang dapat dikatakan sukses atau tidak. Berikut penjelasan
mengenai IQ dan kedua aspek tersebut.
1. Intelligence Quotiennts
(IQ)
Kecerdasan Intelektual yang biasa kita kenal dengan istilah IQ mula-mula diperkenalkan oleh Alfred Binet, ahli psikologi dari Perancis pada awal abad ke-20. Menurut Sorenson (1977), kecerdasan intelektual (IQ) adalah kemampuan untuk berpikir abstrak, belajar merespon, dan kemampuan untuk beradaptasi dengan lingkungan.
Kenyataannya, IQ tinggi tidak menjamin seseorang berhasil dalam kehidupan kelak. Perannya hanya sebesar 20%. Contoh dari penerapan IQ ini adalah seorang mahasiswa yang memiliki Indeks Prestasi (IP) yang sempurna yaitu 4,00. IP yang diraihnya itu merupakan hasil kerja kerasnya dalam memahami pelajaran selama masa perkuliahan. Selain itu, dengan IP yang diraihnya itu pula, ia berhasil mendapatkan beasiswa.
Kecerdasan Intelektual yang biasa kita kenal dengan istilah IQ mula-mula diperkenalkan oleh Alfred Binet, ahli psikologi dari Perancis pada awal abad ke-20. Menurut Sorenson (1977), kecerdasan intelektual (IQ) adalah kemampuan untuk berpikir abstrak, belajar merespon, dan kemampuan untuk beradaptasi dengan lingkungan.
Kenyataannya, IQ tinggi tidak menjamin seseorang berhasil dalam kehidupan kelak. Perannya hanya sebesar 20%. Contoh dari penerapan IQ ini adalah seorang mahasiswa yang memiliki Indeks Prestasi (IP) yang sempurna yaitu 4,00. IP yang diraihnya itu merupakan hasil kerja kerasnya dalam memahami pelajaran selama masa perkuliahan. Selain itu, dengan IP yang diraihnya itu pula, ia berhasil mendapatkan beasiswa.
2. Emotional
Quotiennts (EQ)
Daniel Goleman (1999)adalah salah seorang yang mempopulerkan jenis kecerdasan manusia lainnya yang dianggap sebagai faktor penting yang dapat mempengaruhi terhadap prestasi seseorang, yakni kecerdasan emosional, yang kemudian kita mengenalnya dengan sebutan Emotional Quotiennts (EQ). Goleman mengemukakan bahwa kecerdasan emosi merujuk pada kemampuan mengenali perasaan kita sendiri dan perasaan orang lain, kemampuan memotivasi diri sendiri dan kemampuan mengelola emosi dengan baik pada diri sendiri dan dalam hubungan dengan orang lain.
Contoh dari penerapan EQ adalah kemampuan seorang mahasiswa dalam bersosialisasi sebagai anggota dalam suatu kelembagaan. Kita semua tahu dalam suatu kelembagaan, terdapat berbagai macam sifat dan pola pikir yang berbeda-beda yang dimiliki oleh anggota di dalamnya. Oleh karena itu, dibutuhkan kemampuan bersosialisasi yang baik, seperti kemampuan memahami sifat seseorang, tidak mudah tersinggung, ramah terhadap orang yang ditemui.
Daniel Goleman (1999)adalah salah seorang yang mempopulerkan jenis kecerdasan manusia lainnya yang dianggap sebagai faktor penting yang dapat mempengaruhi terhadap prestasi seseorang, yakni kecerdasan emosional, yang kemudian kita mengenalnya dengan sebutan Emotional Quotiennts (EQ). Goleman mengemukakan bahwa kecerdasan emosi merujuk pada kemampuan mengenali perasaan kita sendiri dan perasaan orang lain, kemampuan memotivasi diri sendiri dan kemampuan mengelola emosi dengan baik pada diri sendiri dan dalam hubungan dengan orang lain.
Contoh dari penerapan EQ adalah kemampuan seorang mahasiswa dalam bersosialisasi sebagai anggota dalam suatu kelembagaan. Kita semua tahu dalam suatu kelembagaan, terdapat berbagai macam sifat dan pola pikir yang berbeda-beda yang dimiliki oleh anggota di dalamnya. Oleh karena itu, dibutuhkan kemampuan bersosialisasi yang baik, seperti kemampuan memahami sifat seseorang, tidak mudah tersinggung, ramah terhadap orang yang ditemui.
3. Spiritual
Quotiennts (SQ)
Kecerdasan Spiritual (SQ) adalah kecerdasan untuk menghadapi persoalan makna atau value, yaitu kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibandingkan dengan yang lain.
Contoh dari penerapan SQ ini adalah ketika seorang mahasiswa mendapatkan beasiswa, selain untuk memenuhi kebutuhan perkuliahan, ia juga akan membantu orang yang membutuhkan seperti anak yatim piatu. Prinsipnya, membantu sesama umat beragama merupakan sesuatu yang penting.
Kecerdasan Spiritual (SQ) adalah kecerdasan untuk menghadapi persoalan makna atau value, yaitu kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibandingkan dengan yang lain.
Contoh dari penerapan SQ ini adalah ketika seorang mahasiswa mendapatkan beasiswa, selain untuk memenuhi kebutuhan perkuliahan, ia juga akan membantu orang yang membutuhkan seperti anak yatim piatu. Prinsipnya, membantu sesama umat beragama merupakan sesuatu yang penting.
Di dalam
dunia pendidikan, hampir sebagian besar mahasiswa hanya mementingkan aspek IQ
saja tanpa memperhatikan aspek EQ dan SQ. Hal itu terlihat apabila menjelang
Ujian Akhir Semester (UAS). Kebanyakan mahasiswa hanya mementingkan nilai
Indeks Prestasi (IP) yang diraihnya tanpa memperhatikan proses pembelajaran
yang dihadapi. Bahkan terkadang, para mahasiswa itupun nekat melakukan
kecurangan misalnya dengan menyontek hanya untuk mendapat nilai IP yang tinggi.
Padahal dalam kenyataannya, hal itu tidak menjamin kesuksesan apabila mahasiswa
itu telah menyelesaikan masa perkuliahannya. IQ saja tidak cukup tanpa diiringi
dengan EQ dan SQ. Penerapan keseluruhan aspek kecerdasan ini haruslah
mendapatkan bobot yang seimbang. Karena keseimbangan di antara ketiga aspek
tersebut sangatlah berpengaruh dalam mencapai kesuksesan.
Rujukan :
Tidak ada komentar:
Posting Komentar