Malam ini tiba-tiba teringat sama
keluarga di Balikpapan, terutama mama sama bapak. Entah teringat semua jerih
payah mereka menghidupi semua anak-anaknya, hingga air mata ini terjatuh.
Sungguh besar pengorbanan mereka. Memang, tidak ada satu pun orang tua yang
tidak sayang sama anaknya.
Mama, yang pernah cerita kalau
sekolah dasarpun tidak lulus. Teringat ketika ia bercerita masa kecilnya yang
sudah bekerja sama kakak kandung (Pakde ku) di Jawa. Mama yang ga mau
menuntaskan sekolah dasarnya karena suatu hal (lupa alasannya apa). Begitu
besar pengorbanannya melahirkan keempat anaknya, hingga ada yang telah
bekeluarga, ada juga yang berkuliah di luar kota.
Teringat ketika aku masih TK,
menjemput dengan berjalan kaki dan menggendong badanku hingga sampai rumah. Tak
terpikir begitu berat badan ini untuk bisa digendong oleh tubuhnya. Memang
mungkin tenaganya dulu masih kuat. Namun sekarang aku sadar. Semakin berkurang
umur mama. Rambut yang dulu seluruhnya hitampun, kini sekarang mulai
bermunculan rambut berwarna putih. Miris hati ini. Padahal belum terlalu tua
umur mama. Masih berumur 45 tahun di bulan Mei nanti. Tapi, memang uban sudah
banyak muncul di rambutnya. Apa mama sangat pusing mengurusi anak-anaknya ini
sampai uban itu tumbuh satu per satu? Ah entahlah, walau gitu aku yakin
pengorbananmu sungguh ikhlas diberikan untuk anak-anakmu ini.
Teringat pula ketika aku masih
SMA. Memang kalau dibilang harusnya aku sudah bisa dibilang dewasa. Tapi
nyatanya aku memang sangat manja. Mama masih rela bangun pagi, menggosok baju
sekolahku, menyiapkan air panas untuk aku mandi. Sementara aku masih terlelap
dalam mimpi. Aaaah aku ini memang terlalu manja. Tidak ada satu patah katapun
yang terucap dari mama untuk kata “LELAH” mengurusi anak manja ini. Bahkan yang
diurusi ga Cuma aku, masih ada zaki (ade satu-satunya) yang dulu masih kecil.
Teringat ketika aku terbangun
untuk shalat shubuh, mama sudah bangun jauh lebih pagi. Terlihat mama sedang
mencuci baju di gelapnya malam dibelakang rumah ketika yang lain masih tertidur
lelap. Sungguh miris sama diri ini yang belum sadar untuk membantu meringankan
tugas rumah. Aku memang manja, yang membantu masak di dapur pun ga bisa.
Sekarang saat jauh dari keluarga,
sungguh teringat semua pengorbananmu. Saat libur ke Balikpapan, sedih ketika malam
tiba mama terlihat begitu lelah, walau kata “LELAH” ga pernah terucap. Seharian
menjaga mbaku yang sekolah di “Sekolah Luar Biasa”.
Maafkan diri ini ketika masih belum
bisa membahagiakan. Yang masih hanya menyusahkan.
===ooo===
Bapak, yang pernah cerita kalau hanya
lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Teringat ketika ia bercerita masa
kecilnya di Jawa, ketika keluarganya ga sanggup membiayai sekolah. Tersenyum
ketika ia bercerita bagaimana serunya “mengangon” bebek di sawah. Memang kalau
zaman sekarang, kisahnya bagaikan dongeng zaman dulu, tapi itu pernah
dialaminya.
Teringat ketika dulu ia harus
bekerja sebagai supir angkot di Balikpapan. Rumah pun masih di rumah kontrakan
yang terkadang kalau hujan datang, hati jadi khawatir karena takut banjir
datang. Dan kalau banjir datang, airpun bisa masuk ke dalam rumah. Kalau banjir
datang di malam hari, semua orang rumah ga ada yang bisa tidur dengan nyenyak,
semua terbangun. Aaaahh masih teringat masa-masa itu ketika aku TK.
Teringat pula beberapa minggu
lalu, ketika libur menunggu nilai hasil ujian keluar. Aku ga mau kehilangan
kesempatan untuk bisa kumpul bersama mereka di Balikpapan. Rasa manjapun masih
muncul ketika ingin bisa diantar ke Samarinda. Padahal tak terpikir di hati
ini, begitu lelahnya bapak menyupir mobil beratus-ratus kilometer hanya untuk
mengantarku sampai di kos. Setelah itu, ia harus balik lagi menempuh jalan jauh
yang sama :’( Sedih pula ketika hati masih egois hanya ingin sekedar diajak
jalan refreshing, membeli baju untuk suatu agenda kampus, tersadar kalau jualan
mobilpun sudah lama ga ada yang laku. (Bapak kerja sebagai wiraswasta penjual
mobil. Jangan berpikir kalau berjualan mobil bisa disebut kaya). Ternyata,
begitu besar pengorbanan bapak, mengatur bagaimana cara agar anak masih bisa
bersekolah, kuliah, makan, dan memenuhi kebutuhan rumah tangga. Egois hati ini
ketika masih saja menghabiskan uang hanya untuk hal yang tidak terlalu penting.
Bekerja untuk menghasilkan uang, membantu meringankan beban bapakpun masih
belum bisa. Hanya mengandalkan beasiswa, sangat bersyukur masih bisa mendapatkannya.
===ooo===
Aaahhh ternyata aku memang masih
manja, egois yang hanya mementingkan diri sendiri. Untuk mama sama bapak,
makasih sudah rela mengeluarkan keringat, tak pernah lelah mengurusi semua
anak-anaknya :’)
Insya Allah doakan, aku bisa
lulus tepat waktu, mendapatkan kerja atau membuka lapangan kerja dan bisa
membalas semua jasa-jasamu. Aamiin yaa Rabbal ‘alamiin..

