Jumat, 07 Februari 2014

Kisah pengorbanan

Malam ini tiba-tiba teringat sama keluarga di Balikpapan, terutama mama sama bapak. Entah teringat semua jerih payah mereka menghidupi semua anak-anaknya, hingga air mata ini terjatuh. Sungguh besar pengorbanan mereka. Memang, tidak ada satu pun orang tua yang tidak sayang sama anaknya.

Mama, yang pernah cerita kalau sekolah dasarpun tidak lulus. Teringat ketika ia bercerita masa kecilnya yang sudah bekerja sama kakak kandung (Pakde ku) di Jawa. Mama yang ga mau menuntaskan sekolah dasarnya karena suatu hal (lupa alasannya apa). Begitu besar pengorbanannya melahirkan keempat anaknya, hingga ada yang telah bekeluarga, ada juga yang berkuliah di luar kota.
Teringat ketika aku masih TK, menjemput dengan berjalan kaki dan menggendong badanku hingga sampai rumah. Tak terpikir begitu berat badan ini untuk bisa digendong oleh tubuhnya. Memang mungkin tenaganya dulu masih kuat. Namun sekarang aku sadar. Semakin berkurang umur mama. Rambut yang dulu seluruhnya hitampun, kini sekarang mulai bermunculan rambut berwarna putih. Miris hati ini. Padahal belum terlalu tua umur mama. Masih berumur 45 tahun di bulan Mei nanti. Tapi, memang uban sudah banyak muncul di rambutnya. Apa mama sangat pusing mengurusi anak-anaknya ini sampai uban itu tumbuh satu per satu? Ah entahlah, walau gitu aku yakin pengorbananmu sungguh ikhlas diberikan untuk anak-anakmu ini.
Teringat pula ketika aku masih SMA. Memang kalau dibilang harusnya aku sudah bisa dibilang dewasa. Tapi nyatanya aku memang sangat manja. Mama masih rela bangun pagi, menggosok baju sekolahku, menyiapkan air panas untuk aku mandi. Sementara aku masih terlelap dalam mimpi. Aaaah aku ini memang terlalu manja. Tidak ada satu patah katapun yang terucap dari mama untuk kata “LELAH” mengurusi anak manja ini. Bahkan yang diurusi ga Cuma aku, masih ada zaki (ade satu-satunya) yang dulu masih kecil.
Teringat ketika aku terbangun untuk shalat shubuh, mama sudah bangun jauh lebih pagi. Terlihat mama sedang mencuci baju di gelapnya malam dibelakang rumah ketika yang lain masih tertidur lelap. Sungguh miris sama diri ini yang belum sadar untuk membantu meringankan tugas rumah. Aku memang manja, yang membantu masak di dapur pun ga bisa.
Sekarang saat jauh dari keluarga, sungguh teringat semua pengorbananmu. Saat libur ke Balikpapan, sedih ketika malam tiba mama terlihat begitu lelah, walau kata “LELAH” ga pernah terucap. Seharian menjaga mbaku yang sekolah di “Sekolah Luar Biasa”.
Maafkan diri ini ketika masih belum bisa membahagiakan. Yang masih hanya menyusahkan.

===ooo===

Bapak, yang pernah cerita kalau hanya lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Teringat ketika ia bercerita masa kecilnya di Jawa, ketika keluarganya ga sanggup membiayai sekolah. Tersenyum ketika ia bercerita bagaimana serunya “mengangon” bebek di sawah. Memang kalau zaman sekarang, kisahnya bagaikan dongeng zaman dulu, tapi itu pernah dialaminya.
Teringat ketika dulu ia harus bekerja sebagai supir angkot di Balikpapan. Rumah pun masih di rumah kontrakan yang terkadang kalau hujan datang, hati jadi khawatir karena takut banjir datang. Dan kalau banjir datang, airpun bisa masuk ke dalam rumah. Kalau banjir datang di malam hari, semua orang rumah ga ada yang bisa tidur dengan nyenyak, semua terbangun. Aaaahh masih teringat masa-masa itu ketika aku TK.
Teringat pula beberapa minggu lalu, ketika libur menunggu nilai hasil ujian keluar. Aku ga mau kehilangan kesempatan untuk bisa kumpul bersama mereka di Balikpapan. Rasa manjapun masih muncul ketika ingin bisa diantar ke Samarinda. Padahal tak terpikir di hati ini, begitu lelahnya bapak menyupir mobil beratus-ratus kilometer hanya untuk mengantarku sampai di kos. Setelah itu, ia harus balik lagi menempuh jalan jauh yang sama :’( Sedih pula ketika hati masih egois hanya ingin sekedar diajak jalan refreshing, membeli baju untuk suatu agenda kampus, tersadar kalau jualan mobilpun sudah lama ga ada yang laku. (Bapak kerja sebagai wiraswasta penjual mobil. Jangan berpikir kalau berjualan mobil bisa disebut kaya). Ternyata, begitu besar pengorbanan bapak, mengatur bagaimana cara agar anak masih bisa bersekolah, kuliah, makan, dan memenuhi kebutuhan rumah tangga. Egois hati ini ketika masih saja menghabiskan uang hanya untuk hal yang tidak terlalu penting. Bekerja untuk menghasilkan uang, membantu meringankan beban bapakpun masih belum bisa. Hanya mengandalkan beasiswa, sangat bersyukur masih bisa mendapatkannya.

===ooo===

Aaahhh ternyata aku memang masih manja, egois yang hanya mementingkan diri sendiri. Untuk mama sama bapak, makasih sudah rela mengeluarkan keringat, tak pernah lelah mengurusi semua anak-anaknya :’)


Insya Allah doakan, aku bisa lulus tepat waktu, mendapatkan kerja atau membuka lapangan kerja dan bisa membalas semua jasa-jasamu. Aamiin yaa Rabbal ‘alamiin..