Senin, 11 April 2016
siapapun
Mau tidak mau,
cepat atau lambat,
orang di sekitar kita akan pergi, berganti dengan orang yang baru.
Atau diri kita sendiri yang harus pergi,
hidup di tempat dan suasana yang baru.
Jangan khawatir..
Karena hidup bukanlah tentang bersama siapa kita menjalaninya, tapi bagaimana kita menjalaninya.
Siapapun orang yang membersamai kita, jika kita berusaha menjalaninya dengan baik, maka hidup kita juga akan berjalan dengan baik.
Hidup kita harus dan akan terus berjalan;
bersama siapapun, di tempat manapun, tapi tidak sampai kapanpun.
→ Letters to Karel, Nazrul Anwar ←
Ketika kamu harus menanggung resiko atas sesuatu yang tidak kamu lakukan,
Ketika yang lain mulai berprasangka, kamu harus tetap sabar dan berdoa.
Allah lah sebaik-baik perencana.
Samarinda, Pondok Istiqomah
11 April 2016
23.06
EGO
Makhluk itu bernama ego,
yang bersemayam dalam tubuh setiap manusia,
menempati salah satu ruang di sudut hati.
Perihal sebesar apa ruangnya, tentu berbeda antar satu orang dengan orang yang lainnya.
Yang pasti, ego akan senang hati untuk memenuhi ruang yang kita sediakan untuknya.
Dan untuk kamu, beserta kaum lelaki di luar sana; sudilah kiranya untuk mempersempit ruang ego itu di hati kalian, agar tidak merepotkan hatinya kaum perempuan?
Aku tahu, sebagai laki-laki, kamu punya kebutuhan yang lebih besar untuk dihormati dan dihargai.
Tapi kamu juga harus tahu, kalau pengharagaan dan penghormatan tidak kamu dapatkan dengan memintanya, tapi dengan memberikan penghormatan dan penghargaan sebesar kamu ingin dihormati dan dihargai.
Kamu selalu ingin menang sendiri, kamu selalu merasa benar, kamu tak ingin disalahkan padahal itu jelas-jelas kesalahan kamu.
Maaf, kali ini kamu amat keterlaluan.
Ego kamu menggurita, dan aku bosan jadi pihak yang selalu mengalah.
Apalah sulitnya merangkai sebuah kata, mengapit dua vokal kembar diantara dua konsonan; m-a-a-f, lalu mengucapkannya dengan sepenuh hati.
Entahlah, mungkin bagi laki-laki yang egois, bilang maaf memang lebih sulit daripada bilang cinta.
Ada saja pembenaran yang kamu katakan untuk memfasilitasi egomu itu.
Bolehlah kamu pintar dalam apa saja, tapi tolong jangan pintar membuat alasan.
Boleh saja kamu memberikan komitmen, tapi tolong jangan setengah-setengah, apalagi cuma sekedar formalitas.
Ngerepotin, tahu!
→Kutipan Buku Genap, Nazrul Anwar←
Samarinda, Pondok Istiqomah
11 April 2016
22.30 WITA
yang bersemayam dalam tubuh setiap manusia,
menempati salah satu ruang di sudut hati.
Perihal sebesar apa ruangnya, tentu berbeda antar satu orang dengan orang yang lainnya.
Yang pasti, ego akan senang hati untuk memenuhi ruang yang kita sediakan untuknya.
Dan untuk kamu, beserta kaum lelaki di luar sana; sudilah kiranya untuk mempersempit ruang ego itu di hati kalian, agar tidak merepotkan hatinya kaum perempuan?
Aku tahu, sebagai laki-laki, kamu punya kebutuhan yang lebih besar untuk dihormati dan dihargai.
Tapi kamu juga harus tahu, kalau pengharagaan dan penghormatan tidak kamu dapatkan dengan memintanya, tapi dengan memberikan penghormatan dan penghargaan sebesar kamu ingin dihormati dan dihargai.
Kamu selalu ingin menang sendiri, kamu selalu merasa benar, kamu tak ingin disalahkan padahal itu jelas-jelas kesalahan kamu.
Maaf, kali ini kamu amat keterlaluan.
Ego kamu menggurita, dan aku bosan jadi pihak yang selalu mengalah.
Apalah sulitnya merangkai sebuah kata, mengapit dua vokal kembar diantara dua konsonan; m-a-a-f, lalu mengucapkannya dengan sepenuh hati.
Entahlah, mungkin bagi laki-laki yang egois, bilang maaf memang lebih sulit daripada bilang cinta.
Ada saja pembenaran yang kamu katakan untuk memfasilitasi egomu itu.
Bolehlah kamu pintar dalam apa saja, tapi tolong jangan pintar membuat alasan.
Boleh saja kamu memberikan komitmen, tapi tolong jangan setengah-setengah, apalagi cuma sekedar formalitas.
Ngerepotin, tahu!
→Kutipan Buku Genap, Nazrul Anwar←
Samarinda, Pondok Istiqomah
11 April 2016
22.30 WITA
Langganan:
Komentar (Atom)

