Kamis, 29 September 2016

Hingga akhirnya sadar bahwa diri sudah terlambat



Bismillaahirrahmaanirrahiim..

tertera jam 9 di undangan pernikahan yang kamu kirim kepadaku tempo hari. sekarang jam 7. masih tersisa 2 jam untuk menempuh perjalanan ke rumahmu, insyaAllah cukup. aku orang yang tidak suka membuat orang lain menunggu. aku selalu tepat waktu.

aku tidak tahu bagaimana rasanya terlambat, sampai hari ini. hari ini aku betul-betul terlambat. aku terlambat datang kepadamu. aku terlambat mengutarakan niat baik karena ada yang lebih dulu datang kepadamu. aku terlambat karena terlalu banyak kekhawatiran-kekhawatiran yang melintas, sementara aku tidak sadar bahwa aku sedang berkejaran waktu dengan orang lain.

tidak jauh dari tempat dudukku sedang duduk seorang laki-laki yang menggenggam tangan ayahmu, berusaha mengucapkan namamu dengan benar. aku tidak pernah menyangka ada orang lain yang lebih siap dariku.

namamu berhasil diucapkan laki-laki itu, meski sedikit terbata-bata. dan ini sudah terlambat, waktunya belajar mengikhlaskan. esok ini akan selalu menjadi pelajaran berharga.

aku menghampirimu dan laki-laki di sebelahmu. aku menjabat tangan laki-laki itu, mengucapkan doa yang diajarkan agama kita. aku lalu menghampirimu, aku mengatupkan kedua tanganku di dada, kamu membalasnya dengan cara yang sama.

"terima kasih sudah datang", ucapmu padaku.
aku hanya tersenyum.


"lain kali, tidak akan terlambat", gumamku dalam hati.



sumber : instagram @aayufuji

Malu aku menisbatkan diri kepada Salaf



Bismillaahirrahmaanirrahiim..



Malu aku menisbatkan diri kepada Salaf

Para salaf adalah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, para sahabat dan generasi setelahnya
Karena amalku tidak seperti para salaf
Bahkan amalku kalah dengan orang awam dalam masalah agama


Malu aku menisbatkan diri kepada Salaf

Ketika adzan berkumandang, aku malah santai dan terlambat shalat berjamaah
Padahal salaf ada yang 40 tahun selalu di shaf terdepan
Kudapati seorang bapak tua renta
yang kata "salaf" saja mungkin ia tidak tahu, tetapi selalu datang sebelum adzan

Ternyata akhlakku kasar, meremehkan dan sombong, hanya baru mengenal dakwah
aku sering berdebat, terkadang mencaci dan sering menyalahkan orang lain
padahal salaf sangat mengutamakan lembut dan hikmah dalam berdakwah
karena dakwah mereka dicela dan dicaci, tetapi aku mengaku berdakwah tetapi malah mencela dan mencaci
ternyata orang awam yang mungkin tidak kenal kata "salaf", akhlak mereka mulia dan disenangi orang manusia


Malu aku menisbatkan diri kepada Salaf

Ketika ada amanah dan pekerjaan, aku tidak profesional dan melalaikan
Kuliahku berantakan padahal amanah orang tua
Pekerjaanku dikantor sering tidak beres
Padahal para salaf sangat menunaikan amanah dan menjunjung tinggi amanah
Orang awam saja sangat amanah dalam pekerjaan
dan mereka membuat tangis-bahagia orang tua di saat wisuda

Ketika ada amanah berdakwah, seolah-olah aku lari dan enggan mengurus dakwah
Aku enggan capek mengurus dakwah
aku ingin koar-koar tentang ilmu saja, mengomentari berbagai berita dan kejadian
Supaya orang tahu aku ini "berilmu", padahal ilmu yang "prematur"
Padahal orang awam saja berlomba-lomba membangun dan mengurus masjid
Orang awam saja berlomba-lomba membantu urusan kaum muslimin


Sekarang aku malu dan akan berjanji
Tidak akan terlalu banyak mengkritisi, mengurusi dan mempertanyakan
"kamu bermanhaj salaf gak?" "si fulan itu salaf?"
Seharusnya mereka didoakan saja dan aku akan terus intropeksi diri
Karena amalku tidak sebagaimana para salaf


Semoga kaum muslimin mendapatkan hidayah terbaik dengan manhaj (metode beragama) sesuai dengan ajaran para Salaf
Aamiin yaa mujiibas saa-iliin
Perkenankanlah wahai Engkau Yang Mengabulkan doa


sumber : muslimafiyah.com


Samarinda, Pondok Istiqomah
29 September 2016

21.47 WITA

Minggu, 29 Mei 2016

Takut, sangat takut yaa Allah

Mungkin disini, aku masih bisa kuat seperti ini
karena masih bisa bertemu saudari sholehah yang terus mengajak pada kebaikan
Aku takut..
Sangat takut..
Ketika apa yang kuyakini,
Ketika apa yang ku kerjakan sekarang,
Tak bertahan ketika aku harus kembali pulang nanti

Sungguh takut,
Ketika apa yang ku sampaikan sekarang,
Ternyata tak ku kerjakan sekarang, ataupun di kemudian hari.
Sungguh takut yaa Allah..
Ketika nantinya godaan itu mampu melemahkanku.
Ketika aku tahu itu salah, namun tetap ku kerjakan.
Sungguh takut yaa Allah..
Ketika aku membaca FirmanMu,
“Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?
Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.”
(QS. As Saf : 2-3)


Yaa Allah..
Hamba selalu memohon.
Tunjukilah kami jalan yang lurus..
Yaa.. jalan lurus yang selalu hamba minta setiap sholat, setiap hari
Jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat
Bukanlah jalan orang yang Engkau murkai,
Dan Bukan jalan orang yang tersesat


Istiqomahkanlah..


Hamba Mohon





Samarinda, Pondok Istiqomah
29 Mei 2016


21.47 WITA






Senin, 11 April 2016

siapapun




Mau tidak mau,
cepat atau lambat,
orang di sekitar kita akan pergi, berganti dengan orang yang baru.

Atau diri kita sendiri yang harus pergi,
hidup di tempat dan suasana yang baru.

Jangan khawatir..
Karena hidup bukanlah tentang bersama siapa kita menjalaninya, tapi bagaimana kita menjalaninya. 
Siapapun orang yang membersamai kita, jika kita berusaha menjalaninya dengan baik, maka hidup kita juga akan berjalan dengan baik.

Hidup kita harus dan akan terus berjalan;
bersama siapapun, di tempat manapun, tapi tidak sampai kapanpun.



→ Letters to Karel, Nazrul Anwar ←





Ketika kamu harus menanggung resiko atas sesuatu yang tidak kamu lakukan,
Ketika yang lain mulai berprasangka, kamu harus tetap sabar dan berdoa.
Allah lah sebaik-baik perencana.

Samarinda, Pondok Istiqomah
11 April 2016


23.06

EGO

Makhluk itu bernama ego,
yang bersemayam dalam tubuh setiap manusia,
menempati salah satu ruang di sudut hati.

Perihal sebesar apa ruangnya, tentu berbeda antar satu orang dengan orang yang lainnya.
Yang pasti, ego akan senang hati untuk memenuhi ruang yang kita sediakan untuknya.
Dan untuk kamu, beserta kaum lelaki di luar sana; sudilah kiranya untuk mempersempit ruang ego itu di hati kalian, agar tidak merepotkan hatinya kaum perempuan?

Aku tahu, sebagai laki-laki, kamu punya kebutuhan yang lebih besar untuk dihormati dan dihargai.
Tapi kamu juga harus tahu, kalau pengharagaan dan penghormatan tidak kamu dapatkan dengan memintanya, tapi dengan memberikan penghormatan dan penghargaan sebesar kamu ingin dihormati dan dihargai.
Kamu selalu ingin menang sendiri, kamu selalu merasa benar, kamu tak ingin disalahkan padahal itu jelas-jelas kesalahan kamu.

Maaf, kali ini kamu amat keterlaluan.
Ego kamu menggurita, dan aku bosan jadi pihak yang selalu mengalah.
Apalah sulitnya merangkai sebuah kata, mengapit dua vokal kembar diantara dua konsonan; m-a-a-f, lalu mengucapkannya dengan sepenuh hati.

Entahlah, mungkin bagi laki-laki yang egois, bilang maaf memang lebih sulit daripada bilang cinta.
Ada saja pembenaran yang kamu katakan untuk memfasilitasi egomu itu.
Bolehlah kamu pintar dalam apa saja, tapi tolong jangan pintar membuat alasan.
Boleh saja kamu memberikan komitmen, tapi tolong jangan setengah-setengah, apalagi cuma sekedar formalitas.

Ngerepotin, tahu!


→Kutipan Buku Genap, Nazrul Anwar←



Samarinda, Pondok Istiqomah
11 April 2016


22.30 WITA



Minggu, 10 Januari 2016

Aku Merindukan Shalat Berjamaah Bersamamu






Apa arti keluarga bagimu?
Pernahkah sekali saja melaksanakan shalat berjamaah dengan keluargamu?
Jika pernah, kapan terakhir melakukannya?
Jika belum, pernahkah terbesit keinginan untuk shalat berjamaah dengan mereka?

***
Semenjak aku masuk UI dan merasakan bagaimana rasanya jauh dari orangtua, aku mulai memimpikan suatu saat bisa shalat berjamaah di rumah bersama mama, papa, dan adik-adikku. Hanya saja, aku tidak pernah berani mengungkapkannya.
Kadang ketika sedang melaksanakan shalat berjamaah di sebuah masjid, keinginan itu muncul lagi. Kapan ya Allah? Apakah suatu saat aku bisa mewujudkan keinginanku? Aku hanya bisa berdoa pada Allah.

***
Di setiap akhir shalat, aku selalu menyisipkan doa agar suatu saat bisa shalat berjamaah dengan keluargaku, mendengar ayahku membaca surat Al Fatihah dan menjawab Aamiin di belakangnya.

***
Aku gemetar. Di depanku ada sesosok pria setengah abad yang matanya sangat mirip dengan mataku, di depanku ada pria yang sangat mudah menangis sama seperti aku, di depanku ada seorang pria yang selalu mengantar jemputku ketika sekolah dulu, di depanku ada pria yang rela berlelah-lelah sepanjang hari untuk memenuhi kebutuhanku, di depanku ada dia yang begitu menyayangiku tapi tidak tahu bagaimana mengungkapkannya padaku.

Aku benar-benar gemetar mengatakannya.

“Papa, jangan marah, yaa..” Aku masih terisak... Entah mengapa sulit menghentikan tangisanku.

“Aku ingin bisa merasakan indahnya shalat berjamaah di keluarga ini, mencium tangan papa, berdoa sama papa. Cerita bahwa disana aku selalu merindukan papa.”

Papa menangis. Mama sudah menangis dari tadi. Ketiga adikku terpana melihatku sambil menangis. Aku? Kalian sudah tahu.

Kami semua menangis.

Aku masih berusaha melanjutkan semampuku.

Pa... Aku cuma takut terlambat mengatakannya. Siapa yang bisa jamin aku masih bisa ketemu papa lagi besok. Aku takut nggak dikasih kesempatan lagi untuk jadi makmum-mu besok. Aku takut tidak sempat merasakan indahnya mengucapkan “Aamiiinn” ketika shalat bersamamu. Aku ingat keluarga almarhum Pak X, aku tidak tahu dan tidak bisa menjamin apakah mereka sudah pernah shalat berjamaah walau hanya sekali selama perjalanan hidup keluarga mereka. Atau mungkin keluarga Pak Y yang sampai saat ini belum dikaruniai anak, mungkin selama ini mereka ingin punya anak, dan ingin bisa shalat berjamaah dengan anak-anaknya.”

“Aku ingin shalat berjamaah sekali saja, sebelum ada dari kita yang mungkin meninggalkan rumah ini satu-persatu, sebelum aku menikah dan mulai jarang pulang ke rumah, atau sebelum Allah memisahkan kita.”


Hari ini pertama kalinya aku melihat ayahku menangis bukan karena rindu pada ibu yang jarang dikunjunginya, bukan karena masalah yang tak pernah ia ceritakan pada kami anak-anaknya, tapi karena aku, putri sulungnya, berhasil memeluk tubuh kurusnya di depan mama dan adik-adikku sambil terisak mengatakan bahwa aku begitu menyayanginya.”
(Petikan buku “Mahasiswa-mahasiswa Penghapal Quran”)-Irma Nuryanti (Alumni Fak. Kesehatan Masyarakat UI/2010)




:’(
Apalah daya ngetik petikan kisah ini sambil brebes mili T_T
Keingat masa-masa jaman SD, bapak rela banjir2an jemput aku, rela hujan2an antar ke sekolah pake motor yang jarak dari rumah ke sekolah itu ga deket :”
Keingat di imamin shalat terawih, denger adzan bapak di mushola.
Pernah denger suara adzan di samarinda yang mirip banget sama bapak, pas lagi kangen2nya pengen pulang.
Selalu terpikir belum bisa sedikit aja kasih kebanggaan yang membahagiakan.
Semoga Allah selalu melindungi dan selalu memberi kesehatan. aamiin


Samarinda, Pondok Istiqomah
11 Januari 2016
00.12 WITA